Powered by Blogger.

“Saiban” 5 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2014

>> Thursday, October 16, 2014

Setelah melalui proses seleksi yang cukup panjang, Panitia  Kusala Sastra Katulistiwa ke-14 menetapkan lima karya unggulan peraih Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa. “Saiban” karya Oka Rusmini termasuk di antara lima karya unggulan pada kategori puisi.
Adapun karya unggulan lainnya dalam kategori yang sama adalah “Tanda-Tanda Yang Bimbang” (Ook Nugroho), “Rusa Berbulu Merah” (Ahda Imran), “Piknik Yang Menyenangkan” (Hasta Indriyana), dan “Tetralogi Kerucut” (A. Muttaqin)

Read More..

Sajak Kartu Tiga

>> Wednesday, October 15, 2014

Oka Rusmini


sepotong ranting menyentuh kening kita
anak-anak berlari, tawanya melukai warna rumput
aku berlindung di harum rambutmu
yang asing
         dingin
         agak liar
sesekali kautawarkan ladang-ladang tandus
tak pernah kautahu

Read More..

Kelahiran (2)*

>> Monday, September 22, 2014

Oka Rusmini


Beginilah mereka memisahkan kita.
Setumpuk pisau runcing beragam bentuk, liat dan licin,
Diolesi abu dapur bercampur garam.

Tubuhmu diikat benang tiga ruas.
Hitam putih merah.
Mereka menggulungmu.

Read More..

Kelahiran (1)*

Oka Rusmini


Konon Ibu memberiku upacara pemapag rare.
Ketika aku lahir beragam dagingnya
yang menempel di pusarku lepas.

Orang-orang menyiapkan sesaji.
Nasi gunung kecil berwarna-warni.
Cikal-bakal warna pelangi di telapak tanganku.

Read More..

Estetika Kekerasan dalam Pandora*

>> Thursday, September 04, 2014

Oleh: Melani Budianta**

Penyair Oka Rusmini memperlakukan tubuh bagai menu santapan. Puisi yang menohok kemunafikan.

Pandora, dalam versi yang umum diketahui, adalah perempuan yang diciptakan para dewa dan dikirim ke bumi dengan kecantikan, kepandaian, dan rasa ingin tahu yang tinggi. Kepadanya diberikan pula sebuah peti yang tak boleh dibuka, dan pada akhirnya?tak bisa tidak?dibukanya. Maka segala bencana, penyakit, dan malapetaka menyebar dari peti. Pakar feminis menemukan asal muasal Pandora dalam mitologi klasik sebagai dewi pemberi hadiah, yang entah bagaimana diubah sosoknya menjadi perempuan pembawa segala kesialan.

Read More..

Pasha

Oka Rusmini


Tak ada lelaki memiliki mata seindah matamu. Aku mabuk, dan selalu hampir mati setiap kausentuh tubuhku dengan nyala yang meluap kaualirkan, setiap kau mencengkeram tubuhku dengan aroma matamu. Kadang kulihat hujan rintik-rintik. Kadang kulihat badai topan mengamuk begitu dahsyat. Kadang kau ingin memakanku mentah-mentah.

Read More..

Oka Rusmini

>> Monday, July 24, 2006

Oka Rusmini lahir di Jakarta, 11 Juli 1967. Kini ia tinggal di Denpasar, Bali. Buku puisi, novel, dan kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit adalah Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), dan Patiwangi (2003).

Read More..

Kangen

Oka Rusmini


teringat: bpk


Sekerat demi sekerat, lelaki itu melepas kulitku. Mengeluarkan isi kepalaku. Bintang gelap menancap di matanya. Ibunya telah merenggut ratusan api yang kusimpan sejak kanak-kanak. Kumasuki wilayah tanpa peta, aku rindu aroma bapakku, yang rajin menghirup gelapnya pagi, sambil mengumpulkan kayu-kayu kering, kakinya dibiarkan tertancap di keruncingan batu. Lelaki itu selalu diam, sambil mematahkan asap yang melukai tubuhku. Sebelum matahari tinggi, dia menutup matanya, lalu mengeruk dapur, dan kembali menjatuhkan tubuhnya memejamkan mata melupakan keping-keping kemiskinan yang dia tancapkan sendiri di tubuhnya. Aku jijik, selalu ingin memuntahkan dan menuangkan seluruh isi tubuh ke otaknya. Agar dia bisa membuka mata, dan memeras bintik-bintik keringat.

Itulah lelaki itu, yang memuja kebesarannya, sementara anak-anaknya berbuih, mengunyah kebesarannya. Aku jadi rindu Bapak, kemiskinan yang dicangkul di darahku melahirkan aroma bunga yang mampu mengupas rohku. Lelaki itu tetap duduk dengan sebatang rokok, tak bergerak, suaranya memuntahkan seluruh isi tubuhku.
Kumiliki dua tubuh tua. Aku memilih Bapak, yang masih berani menengadahkan wajahnya, membiarkan matahari dan orang-orang menatapnya dengan beragam tusukan. Aku sempat melihat matahari mencakar tubuhnya, atau orang-orang menanamkan kata-kata busuk. Bapakku memasuki seluruh kemiskinannya. Jarang kulihat lelaki itu memejamkan mata, sambil mengupas masa lalunya, lalu mendengkur nikmat, sambil mengeram ilusi.
Aku jadi ingat Bapak. Ingin kuambil pisau komandonya, menguliti lelaki tua yang selalu berkicau di depanku. Kutancapkan di otaknya agar dia miliki rasa malu. Anak-anak apa yang akan menjelma dari tubuhnya?

2005

Read More..

Minggu, 26-12-04

Oka Rusmini


Pukul berapa ini? Langit terlihat lebih jernih. Bau apa yang datang? Begitu dingin, bukan bau bunga jeumpa. Juga tidak suara daun kelapa disentuh sapuan buih laut. Aku mendengar bisikan, gemuruh, begitu menyayat hati. Melukai bibir pantai. Mencangkuli urat nadiku. Para nelayan tetap melaut. Sesekali butiran-butiran angin jahat menampar wajah mereka. Meninggalkan noktah kecil panas di bintik mata. Bau asam? Bau lumut? Bau anyir? Bau garam? Bau daging busuk? Bau apa ini? Tak ada suara. Langit menghitam. Gelap. Kadang gelombang menampar kulit mereka. Kadang sapuan angin menggoyangkan perahu mereka. Mungkin hari ini akan kita jaring ratusan ikan-ikan besar.
Perempuan-perempuan menimang anak. Memasak dengan riang. Anak-anak berlarian di bawah sinar matahari yang sedikit meredup. Tak ada hujan. Tak ada angin. Sebuah minggu yang cantik, dengan torehan langit yang begitu jernih. Para perempuan pekerja makin riang, karena setiap hari selalu dipinjam sang hidup untuk membantu para lelaki menganyam dinding-dinding perkawinan. Minggu yang sepi, sedikit kabut. Dan sebuah jam di atas meja jatuh. Jam berapa ini?
Bumi batuk. Sedikit bongkahan mencangkul dinding-dinding rumah. Keluar! Laut telah menelan taman-taman bunga.
Orang-orang menyemut. Perempuan-perempuan menumpahkan air mata. Anak-anak melepas mata. Tak bernafas. Jantung mereka berhenti. Para lelaki tak bersuara. Tubuhnya dingin. Tak ada keringat.
Puluhan ombak. Berdiri dengan angkuhnya di atas kepala mereka. Menyapu rata rumah, tubuh-tubuh basah. Pohon-pohon memeluk tanah kuat-kuat. Kulihat daun-daun kisut. Batang-batang mengerut.
Orang-orang berteriak. Laut lapar. Dia mengunyah apa saja, kayu-kayu, dinding bambu, beton, dan semen. Juga tubuh-tubuh hidup yang menggigil. Berapa detik? Entah!
Waktu tidak lagi ada di bumi itu. Tak ada suara jeritan, hanya gemuruh yang menyapu seluruh bumi. Tak ada yang disisakan. Kuala Tripa, melayang jadi kertas. Tuhanku, ke mana para penghuni negeri ini pergi?
Ombak lapar kembali pulang ke pesisir. Tidak ada luka di bibirnya yang dingin. Tidak juga salam perpisahan. Tak ada darah. Tak ada jeritan memaki. Siapakah ombak itu? Dia melibas istriku. Dia merangkul anak-anakku. Memeluk erat-erat ibu-ayahku. Melemparkan rumah dan binatang peliharaanku. Siapakah dia? Dari bumi mana dia berasal? Mulutnya besar, tangannya keras dan kaku. Tidak ada hati di tubuhnya yang dingin. Juga tak ada wajah dan mata. Juga telinga, tangan, dan kaki. Makhluk hidupkah dia?


2005

Read More..

11 Juli

Oka Rusmini


Seperti apa rasanya menjadi ibu?

Sering kali ketika kanak-kanak, kuhidupkan beragam daun dan bunga rumput di atas kepala, “Aku ingin jadi ibu, seperti Gandari yang memuntahkan seratus anak.” Kutelan gulali, gundu, dan kuisap rujak pentil buah nangka. Kubayangkan anak-anak meletus dari seluruh lubang pori-poriku, menyelimuti tubuhku, menarik rambut, menyentuh bunga-bunga yang bermekaran di atas kepalaku.

Suatu petang. Langit muram, ibuku tak kutemukan di kamar tidur. Seorang lelaki telah mencurinya. Dia tinggalkan sebuah boneka perempuan yang terus menangis, tangisnya menguliti seluruh isi telingaku. Juga melemahkan kaki kecilku. Aku tak bisa berjalan. Lelaki dari mana yang telah datang mengendus ibuku? Di mana mereka bersembunyi? Boneka perempuanku terus menangis. Berpuluh-puluh jam tidak bisa mengeringkan cuaca buruk di hatiku. Lelaki dari mana yang telah merampas ibuku dari kamar tidurku?

Seperti apa rasanya menjadi ibu?

Langit tak lagi kulihat biru. Semua lelaki kutemukan di jalan tanpa kepala, tanpa hati, tanpa jantung. Aku mulai belajar mengeja huruf, berteman dan bersenggama dengannya. Setiap malam kuhidupkan ia di atas meja. Kami menari, kami berpesta.

Aku suka menjadi penari joged. Tubuhnya yang ranum membuatku ingin jadi Drupadi, memiliki lima lelaki yang kutiduri setiap malam. Mereguk setiap leleh cairan mereka untuk kecantikan, kehidupan, kepuasan, dan doaku pada hidup.

Seperti apa rasanya menjadi ibu?

Orang-orang mengirim bunga. Menangis di sebuah TV, mereka khusuk mengenang ibu mereka. Seperti apa wajah ibuku? Aku mencangkuli otakku. Mengupas hatiku, membelah jantung. Tak kutemukan derak rindu membungkam tubuh dan otakku. Ke mana ibuku?

Seorang lelaki kutemukan di jalan. Wajahnya kusam dan penuh lendir. Aku menata matanya, membetulkan letak hidungnya. Mengunting telinga. Memangkas rambutnya yang tebal. Kubetulkan juga letak alisnya yang menyatu. Kurajah tangannya yang kasar dengan mantra dan bunga. Kutiupkan asap menyan, dan remah batu di ubun-ubunnya.

Seperti apa rasanya menjadi ibu?

Aku menjelma si pencemas penyakitan, dirubung teror yang terus basah. Darahku selalu mendidih. Otakku sering kali kering dan menyusut jadi serpihan luka penuh nanah, rasa takut itu terus memburuku. Aku mulai merasakan kehilangan, aku juga sering lupa mimpiku, tubuhku, bahkan kepingan-kepingan keinginanku yang kukubur sejak seorang ibu meninggalkanku sendiri di dalam gelap, dan membiarkan rumput liar menyuapkan sarinya ke mulutku. Langit memaksaku memejamkan mata. Aku tetap ingin jadi Drupadi menidurkan lima lelaki dalam bekap tubuhku.

2005

Read More..

Euforia

Oka Rusmini


Mungkin kita memang tidak memerlukan pertemuan lagi. Atau kau mulai takut menyentuh api yang terus tumpah dalam bola mataku?
Katamu:
Aku menginginkan kau tumbuh jadi pohon. Daunmu yang lebat akan menyumbat gigil yang terus berderak dalam tubuh. Di luar terlalu dingin. Tak ada manusia yang bisa kuajak bicara. Tak ada matahari mau melepas potong tubuhnya. Jangan pernah pergi. Mari, lemparkan ranting-rantingmu yang rimbun. Mungkin aku bisa kembali hidup.
Di sebuah ruang penuh orang-orang. Kau melindap tak berani menangkap bola mataku. Aku telah menggantung kata-kataku di setiap sudut jalan-jalan kota yang padat. Mungkin bisa memanggilmu berpaling. Di rel-rel kereta tua aku melepas pikiran-pikiranku, mungkin dia akan berbiak, menempel di dinding kereta. Bila kau duduk, kau bisa mengulitinya, membawanya pulang.
Aku juga menyelipkan lagu-lagu cinta, karena tak ada suara yang bisa keluar dari mulutku. Kau telah menyumbatnya.
Katamu:
Aku lelaki yang tidak memiliki kata-kata. Kau makin jauh. Aku melihat ombak besar melumatmu. Aku pernah berlari dengan perahu dan jaring. Mungkin masih bisa kusematkan kau di keping tubuhku. Tapi kau terus mengikuti ombak. Kau mungkin telah hilang. Kenapa kau kembali?
Aku pernah jatuh cinta pada patung air yang kau sembunyikan di detak jantungmu. Kau memanggil kerumunan anak-anak yang sedang bermain. Sambil menggenggam tanganku. Aku tak memiliki garis tangan, lalu kau menyuruh sepasang anak yang sedang berkasih-kasihan untuk mengambil taji.
Katamu:
Mana tanganmu. Aku akan menuliskan namaku di urat tanganmu.
Mungkin tidak lagi pernah kau impikan pertemuan. Ketika aku mulai rajin mengirimimu bunga, daun-daun kering. Sambil mengingat berapa usiamu kini. Kadang-kadang kucuri suaramu. Lalu kuselipkan di seluruh lubang telingaku. Mungkin aku bisa mengenang rasa takutmu.
Katamu:
Aku tak ingin kehilanganmu.
Aku pernah jatuh cinta pada pada patung air itu. Ketika malam, kukirimi bangkai bunga. Kau melempar wangi akar padaku.
Kau tidak pernah berkata-kata lagi. Selalu gelap. Dingin. Mungkin memang tidak pernah kau inginkan pertemuan lagi. Tapi aku masih mendengar suaramu yang parau menyanyikan lagu-lagu cinta penuh ragu. Kelak bila aku bisa mengumpulkan huruf-hurufku yang tanggal akan kukirimi kau sebuah rahasia yang terus membuat denyut di dalam darahku.
Atau kau ingin mengambil namamu di telapak tangan yang pernah kau goreskan?

2005

Read More..