Powered by Blogger.

Tentang Ibu Kunti

>> Wednesday, August 19, 2009

Oleh: IAO Suwati Sidemen


apa yang dibayangkan
oleh ibu kunti
ketika harus menjadi ibu
sekaligus ayah
tanpa lelaki kedua


apa yang dipikirkan
oleh ibu kunti
ketika mengantarkan lima anak
menjadi lelaki dewasa
dan membutuhkan sebuah nama
sebagai panutan perang


apa yang membuatnya tegar
sementara kelima buah hatinya
terlempar dari meja judi
sebab sebutir dadu

Read More..

Pasola

IAO Suwati Sidemen


dari batas lembah
debu mengirimkan tubuhnya
pada langit

lahirlah para Tau Humba
yang paham akan lukisan marapu

apa
yang tak mampu dilunasi
oleh ringkik kuda
dan warna tongkat lelaki

Read More..

Wageningen

>> Thursday, August 13, 2009

Oleh: IAO Suwati Sidemen


sepasang capung mengenakan sayap sepuhan
membakar peta
bagi kera bermata biru

merajut dua jembatan akar
lewati sungai nanah
yang amisnya memerihkan pori iga

dari bintik noktah itu nanti
lahir empat mata air

dan terakhir harumnya
seperti kemenangan ajal

apa yang kau bayangkan tentang kematian tiba-tiba?

Read More..

Mari Memperbaiki Surga

IAO Suwati Sidemen


mari perbaiki surga, Nis!
kalau tidak
neraka nanti akan jadi lebih nikmat

ada seratus algojo neraka
dengan sukarela akan menjamu serdadu surgamu
atau sekadar menawarkan aroma dan buih wisada
dalam cawan perak keemasan

nanti mereka terjebak
dalam permainan bidak

hitam dan putih rubuh
bukan sebab polah
tapi sebab pongah

di tanahmu sekarang
sumbu kremasi dinyalakan sebelum jasad jadi mayat
napas dibakar selagi O2 basah bau darah
tubuh terkubur sebelum ruh dijemput
kita berkabung untuk kematian yang masih suri

arca berukir tengadah kepada awan
membaca tubuhnya yang tiba-tiba berlumut

firasatkah itu? firasatkah yang terlukis setiap hari

di jaba tengah gumi
tanah bersedekah campah
ilalang tumbuh sembarang
kita terkurung belukar
dipaksa berbagi petak dengan keliaran gambut

mari kita perbaiki surgamu, Nis!
kalau tidak
neraka nanti jadi lebih nikmat


nb : wisada = racun

Read More..

Kita

>> Saturday, August 08, 2009

: Varapanna

IAO Suwati Sidemen


apa yang membuat lelaki
merasakan perih luka rahim istrinya

sayatan pisau setipis kuku bayi
seketika mengering tanpa rasa sakit


seekor bangau berkaki jenjang menjinjit
meninggalkan sekeranjang karunia langit
ditumpukkan biji sawit pahit


kita telah sepaham penuh
untuk bersama menyemai peluh
mengetam garam tubuh tanpa mengeluh

karenanya
kunikmati benar
setiap serabut akar mereka
menancap dan membesar
lalu meretakkan tempurung kantung air susuku

menjadikan aku sesempurna pertiwi

Read More..

Rumah Kami

IAO Suwati Sidemen


rumah kami
dibangun dari bata bersusun
tanpa perekat tanpa penguat
tak punya pagar
cuma beluntas liar

di biliknya
aku melahirkan anak-anak kami
mereka tumbuh
dan besar
oleh umbi
dan daun


lelakiku bukan gunung
bukan pula ladang
cuma selembar tanah lumut berlapis

tak ada mata air
di dadanya
cuma setitik noktah di pelipis
tanda hidupnya belum lagi habis

di atap rumah
kami menyemai biji anggur
kemuliaan altar
dan kubur


suatu hari
kami mengundang burung
dan binatang langit
agar kemurahan sekadar menoleh

apa yang membuat burung malam
mengundang matahari menjemput umurnya

Read More..

Sinta

>> Saturday, May 16, 2009

IAO Suwati Sidemen


dalam tubuh setiap perempuan
ada bilik untuk mengabadikan
darah seorang lelaki


karena awanpun
tak berhak memilih
derajat keasaman
air hujan dalam tubuhnya

sebagai capung bersayap perak bening
dengan ekor berbuku ganjil

apakah yang lebih menyentak
selain saat menyentuh kulit air

membuat paham
mengejar bayang
adalah prosesi menuju petaka


maka jangan pertanyakan
garam peluh purusa
yang menggumpal
menyumbat lubang porimu

sebab
dalam tubuh
setiap perempuan
ada bilik
untuk mengabadikan
darah seorang lelaki

Read More..

Di Arhnem, Mengenang Oka Segara

>> Tuesday, May 12, 2009

IAO Suwati Sidemen


pernah kau bayangkan
musim gugur nanti

tanah memanggil kita pulang
mewarisi
rupa-rupa kematian
menelanjangi
meninggalkan tubuh kita
tinggal gurat-gurat tulang


kita tak pernah tahu wangi musim semi
bau percintaan merpati dan kelinci
sebab kita terlahir untuk mengubur diri
dalam musim gugur

setiap musim membutuhkan jasad
semacam tumbal dan seserahan bumi
dan kitalah
yang dipersiapkan
untuk menjadi tumbal musim paling indah

di jasad kita nanti
jamur musim semi menggelar payung kaumnya
menyuntikkan napas lambung
dari tubuh busuk kita

tapi segala kekaguman
tak pernah menyebut kematian kita
sebagai pembuka berkah

tinggal kita nanti
dalam kubur dangkal
menangisi perihan bekuan darah
yang tetap terhisap

Read More..

Merpati De Punt

IAO Suwati Sidemen


tepat di depan jendela kamarku
seekor merpati mengabarkan musim kawin kaumnya

barangkali tidak terlalu sulit
membayangkan, apa yang kau inginkan tersaji
dalam nampan pinangan kedua


tapi jarak masih terlalu jauh, merpati negeriku
aku bahkan tak punya peluang
untuk menggeserkan karpet ruang tamuku
walau aku sangat ingin mengakrabi
lantai rumah sewaku di De Punt

seperti sehabis mendengar
kisah kematian Dewi Madri
aku membayang seperti apakah anak-anak kita
tumbuh tanpa kau dan aku

bisa kau bayangkan , siapakah yang lebih sempurna
membentuk otot-otot tubuhnya diantara mereka
aku bahkan tak sanggup menyebutkan
nama mereka satu persatu
ada segumpal dahak membatu pada pangkal lidahku
membuat aku cacat sebagai istri dan ibu

kalau masih ada sebongkah kesabaran
yang dianugerahkan padamu
kabari aku tentang hari
di mana aku harus mengikhlaskan tubuh perempuanku
pada api jenasahmu

Read More..

IAO Suwati Sidemen

>> Saturday, August 19, 2006

BAGI KARNA

saat mengangkat busur itu
apa yang melintas dalam benakmu, pahlawan?


seorang perempuan berdiri
melepaskan anak panah kelahirannya
menikamkan luka di selaput jalamu

tanda kelahiranmu terlalu sempurna
untuk sebuah stempel palsu


seharusnya
sebuah pertarungan diawali di sini

tepat
saat kau beranjak
meninggalkan kemenangan
yang mestinya kau bawa pulang
pada keikhlasan
menyadari kisahmu


DRESTARASTA, KAUKAH ITU

kaukah itu
lelaki buta
yang menyamarkan kedukaan mata
dengan memejam sepanjang perkawinan ini

pernah kau bayangkan
seperti apakah keheningan
sehabis menguburkan
seratus anak kita
yang terkalahkan
dalam separuh umur matahari


masih hangat darah
yang mengental
di sari perempuanku

aku masih mencium wangi doaku
saat kemenangan
masih ditawarkan

tapi bulan terlalu cepat lahir
aku belum lagi puas membaca gemilang khayalku
aku belum lagi puas menghitung suka cita siasatku
aku belum lagi puas menelanjangi kisah lontar

aku belum lagi puas


kaukah itu
lelaki buta
yang menyamarkan
kedukaan mata

dengan memejam sepanjang perkawian ini

kaukah itu




PINANGAN

terpanggang separuh tubuh
menyisakan arang kulit ari
ozon tersedak
oleh duka cita kematian


matahari bumi
terlalu purba
untuk pahami
perkawinan semusim

kita
tak akan punya ruang
untuk sebuah perayaan cinta

sehabis
membenamkan sebongkah nusa batu
laut membayangkan
sebuah pembantaian selanjutnya

untuk menjelmakan planet ini
menjadi air seluruhnya


menenggelamkan kita
separuh sisa umur



MEMBAYANGKAN TUHAN

Saat bersama Ksenja Vasilvya di Drente

kalau
membayangkan tuhan
sebagai
selembar daun


aku cuma menangkap keganjilannya


saat musim gugur
melunturkan warna hijaunya

dan membuat tubuhnya
sedikit lebih cantik!




BUNGA ITU BERNAMA MAHATMA GANDHI

wangi apa
yang sesungguhnya

membius hutan pinus

saat musim gugur
merontokkan musim gugur


sepasang kepompong
masih saja membatu

sebab ke dua larva
di dalamnya
enggan mengenakan rupa
yang terlalu cantik
sayap keemasan
dan tubuh perak basah

kaukah itu
yang menangkup tangan
dalam semburat matahari

asap doamu
tercium
hingga ke rahim putik sari


apa yang kau bayangkan
saat putik sari itu
mengisyaratkan perkawinan

dalam tubuhnnya
telah melahirkan
kanak-kanak belia



HANUMAN DUTA

dalam sebelas kepakan
tibalah aku
pada hutan bunga itu

seperti apakah kerinduan yang dititipkan padaku?

sepasang lelaki dan perempuan
dalam bilik rahimnya
menyesali pesona
makhluk setingkat di bawah manusia
dan emas sepuhan?
yang mengirim matahari keperakan

semakin pucat
dalam hitungan bulan

bila lingkaran
yang disucikan
sebagai perkawinan itu
menelanjangi busana buwana

para dewa menitipkan rasa iba
pada sepuluh jari
yang setia menakup kuwangen

seperti apatah kerinduan yang dititipkan padaku




PHOKARA

aku mengenalnya
sebab kami ada dalam lingkaran
yang sama

lingkaran yang dibuat laksmana
sehabis mengucapkan sumpahnya

dan kami sepakat
untuk tidak mengulangi
kemenangan rawana
memperdaya sinta

biarpun musim berbiak memanggil kami
kami tetap menghuni lingkaran

disitu
kami berbagi kata
iba
akhirnya kasih
mungkin
inilah kesalahan terbesar itu

kami bercinta

sebab dalam lingkaran itu
hanya ada kami berdua

dan malangnya
kami tunduk
pada setiap sentuhan



ANAK ILALANG

sebab ibuku tetap perawan
sehabis aku dilahirkan
aku disebut karna


sebab harga sebuah nilai
aku diserahkan
pada sungai

oleh pundi
napas orokku dibuai


aku dibesarkan
dalam rumah kepompong berbingkai

tumbuhlah aku
dengan segala sayap sepuhan berurai


sebab harga seperangkat kuda perang
separuh picing busurku terbentang

ajalku terpinang

tanda kematianku
bukan remang





ANAK TANAH


sebab
terlahir dari tanah
dan meminjam kebesaran hatinya
untuk tetap menyusu

aku jadi serupa tanah

tumbuh sesederhana rumput liar
bersetubuh dengan tubuh sendiri
berbiak tanpa upacara perkawian


sebab
aku terlahir dari tanah
pekat wangi tubuhku

naluri mengagumi
aku terbiasa bersentuhan
dengan gurat dan urat

bukan pikir dan ukir


kalaumusim pengujan tiba
akarku terendam
batangku membusung

aku mati dengan bau busukku


sebab
terlahir dari tanah
aku tak pernah menyesali kelahiranku



DEVIAN

jalan menuju ruhmu terlalu jauh

aku tak mungkin memelukkmu
tanpa menguliti ubunku sendiri

berhentilah memanggilku
dengan tembang duka cita
sebab liang dengarku mulai membeku

lupakan tentang ayunan rotan
kelambu tipis
dan tangis
yang membuat kita tersenyum bijak
kita tak mungkin memilikinya

suatu masa, saat bola mataku kau iris
dengan pisau puisiku
aku menangis

ada setumpuk perjanjian
yang menumpuk di atas rak bukuku
selembarnya tentang kita

tapi ada seratus lembar yang lain
tentang aku dan mereka
dan rohku menjadi saksi

datanglah kembali
kalau cuaca mulai meninggi
izinkan aku pulang
pada padang
yang masih harus kuukur
dengan tapakku
izinkan aku menyemai peluhku
untuk tanah berpenyengker
sebab tulangku terlalu rapuh
untuk kau panggang
dengan matahari bumimu
DUARAWATI

duarawati yang bijak

ada perang diseberang
tidakkah anyirnya tercium olehmu?

pagi hari
serdadu berpangkat rendah
menabuh irama perang
menghias kereta perang
dengan umbul-umbul warna terang


menjelang petang
kuda-kuda pulang tanpa sais
keretanya koyak
umbul-umbulnya
menggantung separuh tiang

duarawati yang anggun
apa yang membuatmu membatu

gagak terbang makin rendah
matanya liar memicing
membantu ajal meminang ruh

ini perang semusim


dua musim lagi
di sini

anak-anak lahir tanpa kelamin
mewarisi keserakahan zalim



MALIN PEREMPUAN

sebutlah aku malin perempuan

sebab
ketika aku bosan menyusu
pada perempuan yang kupinjami napas
ku kubur namaku
dekat kubur ari-ariku sendiri
dengan upacara sekadarnya

aku datang pada karang
berguru pada segala
yang membuatku yakin
pada belulang tubuhku

kalau aku datang lagi padamu
jangan panggil aku
dengan grnta rahimmu
tak ada rasa dalam liang dengarku

biarkan pada petak lidahmu
selembar tanda baru
lupakan janjimu pada matahari dan leluhur
tentang kanak-kanak
yang akan kau lahirkan

miliki hanya satu keyakinan
aku tak akan pernah mati oleh kutukan

setelah seluruh isi matamu
tak lagi menangisiku
sandarkan mimpimu pada pilarnya
berkacalah pada waktu

kau akan tahu
mengapa aku bersalin rupa

dan kita
tak akan pernah saling mendendam
BULAN MADU

jangan pernah mengajari perempuan
menghitung putaran bumi
dengan begitu, setidaknya aku tak mahir
menghitung hari kepergianmu

itu sebabnya
kalau kau rindu

pulanglah!


kalau kau rindu,
pulanglah

jangan pernah berpikir
aku akan menghitug dosa budimu
sebab rindu tak pernah lagi menghitung poah

sebab lelaki berumahkan bumi

jadi aku tak akan pernah memintamu
menghuni rumah
yang kau bangun sendiri
dari iga belulangmu sendiri


jadi
kalau kau rindu
pulanglah!



DEVENTER

tentang awal musim semi ini, Nis
tidakkah kau sedang memasungku

bukankah matahari musim ini
lebih panjang daripada di katulistiwamu

tentang anggur bening ini, Nis
sisakan seteguk
sebab esok
adalah hari penghabisan

kita nanti duduk
seperti sepasang boneka salju
menungu kematian

lalu tentang kesepakatan untuk pulang
tidaklah sekerat kerinduan
pada pucuk musim ini, Nis?


sebelum segenap pucuk
-seperti juga pucuk di bilik betinaku
menguning




DI WINKLE CENTRUUM, 30 SEPTEMBER MALAM

sekadar mengingatkanmu, Christy
dua blok lagi menuju toko pakaian bekas

apa yang ku bayangkan
tentang angsa liar di bibir kanal

membeku atau terbakar
baginya sama saja

sebuah kematian yang dijemput musim


lupakan perempuan malam di Suchtelenstraat, Christy
mereka cuma robot pucat
dengan lubang koin di punggungnya

mereka menari untuk kanak-kanak
yang merindukan ibunya

bahkan mereka belum pantas
mengenakan sepatu hak dua belas centi



berjalanlah sebagai bidadari yang cantik , Christy
bayangkanlah sebentar lagi
bidadari putih akan letih

turun ke bumi menonton langit
menyaksikan tarian kita

tarian para bidadari hitam yang cantik



TARIAN KUDA ITU

(bagi sang penjodoh gelap)

apa yang tersisa
dari tarian semalam

kuda api itu
membakar lidah penunggangnya
dalam bara keperakan


sebab percintaan
membutuhkan sedikit ke pura-puraan

sengaja tak kupuaskan ruhku malam ini
kuundang asap menyumbat pori betina

memucatkan rupa tubuhmu
menjadikanmu sedikit lebih sempurna

sebab percintaan
membutuhkan sedikit ke pura-puraan

biar kurasa perih pori telapakku

mengantar ringkih matahari
menuju batas edarnya


AH

siapakah ayah
dari anak-anak yang berpolah serakah

ini tanah
nanti tinggal noktah
dalam sejarah

dulu ini sawah
pernah jadi tampah
wadah menadah berkah melimpah

tapi cacing tanah dan lintah
mulai gerah
ketika limbah tumpah dicurah

dulu di atas lembah
langit terbelah
melahirkan matahari merah

sekarang rumah mewah
berderet berakar segagah jerapah

dulu baruna begitu ramah
kail dan sampan boleh singgah
lalu perompak pongah
menuang kuah jelatah
ruh samudera mengalah
pindah ke kawah
yang tak basah


dulu di sini ada perkebunan getah
sayang, ada mesin bersengat lebah
membuat batang patah
buahnya membisulkan nanah
dari lukanya
sesekali menetes darah mentah

UGANDAMU, CHUKU

apa yang kau bayangkan
tentang Uganda, Ida?!

di negeri kami
bintang lahir keperakan
segalanya sedikit pucat
sebab langit kami
hitam. begitu gagah berkuasa

Chuku artinya dewa, Ida

tapi,
bila saja aku benar-benar dewa
tentu telah kupindahkan pulaumu
ke Ugandaku
agar segala alasanmu
tentang dokumen dan ijin tinggal
tak ada lagi

Uganda dan Chuku, Ida
seperti air yang cerdik
mencari peluang
menyusup

lelaki meminang hujan dengan peluhnya
napasnya lebih parau dari lagu gagak
dekat dekat stasiun Drente

dan host family kita tertatih
menutup pintu
angin tak boleh masuk
membawa salju
“tot morgen!”
pintu ditutup

apa yang kau bayangkan, Ida
tentang Uganda dan Chuku

Read More..

IAO Suwati Sidemen

Dilahirkan Denpasar, 11 Oktober 1969
Menempuh pasca sarjana pada International Master Programme Iseland, Deventer, Belanda. Sekarang, Ibu dua putri ini masih sebagai staf edukatif pada Fakultas Teknik Universitas Mataram.

Puisinya dimuat di Bali Post Minggu, Koran Tempo dan Media Indonesia.

Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi:


Perempuan Bali di Rantau
Kulkul (Sanggar Minum Kopi, 1992)
Rumah Ilalang (Yayasan Damba Bestari, 2003)
Swara Gumi Langit (Antologi Puisi Penyair NTB,Taman Budaya NTB, 2006)


Antologi Cerpen Empat Pilar (Sastragrha NTB, 2005)

Puisinya memenangi Minum Kopi Award tahun 1992
Tulisannya yang lain pernah mendapatkan penghargaan (Pemenang II) dari konsulat Australia dalam lomba karya tulis kreatif di Bali tahun 1991

Alamat:
Jl. MELATI VII/282 BTN REMBIGA MATARAM 83124
e_mail: suwatisideman@yahoo.com
HP 081 2370 99 89

Read More..