Powered by Blogger.

Kemoterapi

>> Tuesday, May 07, 2013

Oleh : I Wayan Arthawa

sakit, aku pelajari
setiap tetes cairan yang menetes
dari kantung plastik
menyusuri tubuhku
mari kita salami pertemuan
lalu bercakap- cakap
tentang derita dan bahagia
ragaku tempat kau bersemayam
jadi rumah deritaku mengalunkan kesedihan

sakit, aku pelajari
air mataku dalam detak waktu
menggetarkan bandul jam
perih mengguncang
seperti pisau mengiris kulit sukmaku
seperti ada yang menari dilangit
saat malam rebah diranjangku
bertabur bintang

sepi mencatat rinduku
menuliskan_Mu dalam remang lampu kamar
rinduku tak sampai untuk menuiliskan puisi
oo, sakit perpetualang melepas lapar
mengunyah detak jantungku

aku terlempar di awang-awang
dikerumuni kunang- kunang
aku memanggil leluhurku
untuk menembangkan mantram
yang lupa aku hapalkan


Catatan:
Ini adalah sajak terakhir yang ditulis I Wayan Arthawa sebelum berpulang.


Read More..

I Wayan Artawa

>> Wednesday, July 19, 2006

NYEPI

(Mengenang Isyarat Alam dalam Keheningan)


Aku ingin kembali belajar
Tentang sunyi
Sebelum kentongan memberi isyarat duka
Sebelum langit menguras air mata
Menyampaikan kidung sedih
Pada bumi yang tua
Dijejali kebisingan
Manusia mabuk dibungkus lesetan cahaya
Seperti robot menari
Mengikuti dentang logam baja
Kabel-kabel dan virus-virus komputer
Masuk kejantung manusia
Menari di nurani
Manusia diprogram oleh jaman besi

Aku hanya bisa berenang dalam bahasa sunyi
Saat pohon-pohon runduk
Angin tertidur lelap di gua-gua leluhurku
Sunyiku laut bergelora
Meditasi di tikar daun pandan
Keheningan di detak jantung
Mengukir perjalanan bumi

Dengan sepotong lidi pohon rontal
Gumpalan bunga tanah coklat
Kesucian gerimis doa
Taksu hatiku mencium tanah cipta-Mu




TANAH LELUHUR


Menggurat aksara di daun lontar
kidung mana yang harus dialirkan
mengendapkan bathin dalam semadi
anak-anak semuanya berlari
meninggalkan tanah leluhur

melebur tanah kehidupan serasa kosong
di pohon-pohon gamelan
puncak candi berendam keperihan
leluhur kita

seperangkat canang dan dupa
menggigil di keheningan jagat
tak bertuah untuk menyegarkan kandungan
kesetiaan bagi kehidupan
bagi kita
anak-anak
dan cucu-cucu

Amlapura, 1989

Read More..