Powered by Blogger.

Mencari Kubur Baridin dan Suratminah*

>> Friday, November 07, 2014

Riki Dhamparan Putra 


/1/
kau masuki relungku
kau daki gigir bukit di punggungku
seperti memikul isi bumi dan isi langit
kau buat kasih
menjadi beban dalam pilu nasibku

Tapi aku tak akan jadi Baridin, kasihku
Karena engkau juga bukan Ratminah
Walau telah menyakitiku

Read More..

Sebuah Ziarah kepada Puisi

>> Saturday, August 08, 2009

Oleh: Riki Dhamparan Putra


Suatu malam ujung jemarinya menciptakan nama-nama bunga. Ia bertanya kepada bunga itu: “ Apakah engkau melihat warnamu sendiri? “ Tak ada jawaban. Tapi ia tahu bunga paham. Lantaran suara angin di beranda... (Gua Braile, hal 73)

Matamerabooks, sebuah penerbit mandiri di kota Denpasar kembali menerbitkan kumpulan puisi penyair Frans Nadjira , Curriculum Vitae ( selanjutnya ditulis CV, pen) September, 2007. Setelah sebelumnya menerbitkan Springs Of Fire Springs of Tears (1998). Buku setebal 203 halaman ini terbit dwi bahasa (Indonesia dan Inggris) dalam edisi hard cover dan soft cover, berisi 55 karya puisi terbaru penyair dan pelukis Frans Nadjira, dilengkapi dengan catatan pengantar oleh D Zawawi Imron dan Arif Bagus Prasetyo.

Sebuah buku yang kehadirannya sangat pantas dirayakan, karena dapat memberi kita teladan dalam hal produktifitas dan totalitas seorang penyair. Mengingat di usia yang sudah semakin senja, Frans Nadjira masih sangat produktif menulis puisi.

Lahir di Makassar, 3 September 1942, melakoni dunia menyair dan melukis pada tahun 1960. Pada tahun ini juga Frans Nadjira merantau untuk memperkaya pengalaman. Ia pernah menjadi kuli kayu di pedalaman Kalimantan, buruh pasar dan sederet pengalaman perantauan yang tentu saja memperkaya batin dan proses berkeseniannya. Pada dasawarsa 70-an sempat bergiat di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Tahun 1974 ia bermukim di Bali. Tiga tahun kemudian mendapat grant untuk mengikuti International Writing Programm dari IOWA university, Amerika Serikat.

Kiprahnya sebagai seorang motivator atikfitas sastra di Bali diakui oleh seluruh penyair dan intelektual Bali. Bersama – sama dengan rekan seangkatannya Umbu Landu Paranggi, Frans Nadjira tak letih – letihnya mendidik para ‘santri’ puisi. Seperti diakui oleh Sindhu Putra, seorang penyair terkeren di Bali “Om Frans adalah manusia puisi. Ia lah yang secara langsung mempengaruhi tekhnik serta memotivasi semangat para generasi penulis yang lebih muda seperti saya. Sikapnya yang tanpa basa – basi bahkan kerap membuat teman – teman yang kurang sabar merasa tersinggung. Ibarat sepasang mata, kalau Umbu adalah mata kanan, maka Om Frans adalah mata kiri...” tutur Sindhu Putra dalam sebuah kesempatan.

Darah Makassar memang melekat kuat dalam diri penyair Frans Nadjira. Itu pun berpengaruh pada gaya ungkap sajak – sajaknya. Bahkan di dalam beberapa puisi pada kumpulan CV yang ditulis di usia 63 tahun ini, masih terasa gaya ungkap Makassar yang lugas itu.

Banyak yang berpendapat bahwa kecenderungan puisi Frans Nadjira di buku ini sangat berbeda dengan kecenderungan pada dua buku kumpulan puisinya yang lalu. Yakni Springs Of Fire Springs Of Tears (1998) dan Jendela. Kecenderungan itu ditandai dengan nuansa solidaritas sosial yang muncul begitu kuat pada sebagian besar sajak di CV. Apalagi dalam catatan Arif Bagus Prasetyo, dicantumkan pula pernyataan – pernyataan Frans Nadjira tentang ‘kepenyairan dan kenyataan sosial’ yang menurut saya cukup mengejutkan.

Seperti misalnya pernyataan berikut ini “Kini kita tak butuh penyair kalau itu eksklusivisme. Yang kita butuhkan sekarang, orang menulis kenyataan yang dialami suatu bangsa....Atau pernyataan yang lebih pedas lagi “masih pantaskah kita bermain metafora?”(CV, hal 9)

Saya pastikan bahwa pernyataan semacam itu cukup kontroversial karena dilontarkan oleh seorang guru, sahabat, sekaligus motivator di dalam menulis puisi. Ia akan berpengaruh tidak hanya dalam penilaian para penyair kepada Frans Nadjira, tetapi juga dalam proses pencarian bahasa puisi para penyair itu sendiri. Sebab, bagaimanapun (terutama bagi teman – teman yang memulai proses kreatifnya di Bali), metafora adalah standar yang musti dicapai untuk melahirkan sebuah puisi yang utuh atau ‘jadi’. Nah, sekarang muncul gugatan ini: masih pantaskah kita bermain metafora?

Menurut Arif Bagus Prasetyo pernyataan itu disampaikan Frans Nadjira pada tahun 1997 dalam sebuah percakapan. Keperluannya untuk mengulang pernyataan itu kembali dalam esai pengantar CV yang terbit sepuluh tahun kemudian tentu berkaitan dengan usahanya memahami kepenyairan Frans Nadjira secara utuh. Di mana Arif akhirnya menyimpulkan bahwa Frans Nadjira bukanlah seorang penyair dengan tipikal puisi sunyi magis saja, tetapi sajak – sajaknya juga menunjukan kesan solider dan keberpihakan pada orang lemah. Terbitnya CV, tampaknya telah memberi Arif kesempatan untuk menyampaikan pandangannya itu.

Bila melihat situasi sosial politik di tahun 1997 yang sedang bergerak untuk melepaskan diri dari tirani orde baru, dapatlah kita mengerti mengapa penyair ini sampai mengeluarkan pernyataan tersebut. Tahun 1997 banyak terjadi peristiwa penculikan aktivis dan pembungkaman gerakan – gerakan yang menuntut perubahan oleh pemerintah. Tahun ini gerakan menentang penguasa orde baru mulai marak yang berujung pada turunnya Soeharto dari tampuk pemerintahan. Situasi seperti itu tentu telah menyentuh nurani penyair dan menginspirasinya untuk menulis puisi – puisi yang bercerita tentang kenyataan.

Salah seorangnya adalah penyair Frans Nadjira. Ia diam – diam menulis puisi sosial dan baru mempublikasikannya lama sepuluh tahun kemudian. Rupanya Frans Nadjira bukanlah seorang narsis politik yang suka menonjol – nonjolkan diri paling berperan dalam sebuah perubahan. Ia tak ingin puisi tampil sebagai kerja heroik yang pamrih hanya karena telah berbicara tentang kenyataan yang terjadi. Kumpulan puisinya yang terbit setahun setelah ia bercakap dengan Arif Bagus Prasetyo itu malah Springs Of Fire Springs Of Tears. Sebuah kumpulan puisi yang tidak berpretensi menyeret – nyeret tema sosial di dalamnya. Bagi saya sikap seperti itu adalah sikap yang tepat untuk menjaga kemurnian sebuah kerja kepenyairan.

Masih dalam catatannya di buku CV, Arif Bagus Prasetyo menyimpulkan bahwa pernyataan Frans Nadjira yang demonstratif mengenai hubungan penyair dengan kenyataan sosial tersebut, toh tidak mengurangi kesan “sunyi’’ yang biasa kita dapatkan dari sajak – sajak sebelum CV. Menurutnya Frans masih tetap berkhidmat di dalam pencarian kesunyiannya yang seakan – akan abadi. Dengan kata lain, keluar masuk dunia sosial – dunia sunyi sebenarnya adalah usaha Frans Nadjira untuk menemukan kepenuhan dirinya sebagai manusia kolektif sekaligus manusia penyair.

Mengutip Octavio Paz, Arif mengatakan hal itu karena puisi pada dasarnya adalah usaha untuk melakukan ziarah pada sejarah. Dalam konteks CV, ziarah tersebut tentu tidak hanya ziarah sosial tetapi juga ziarah kepada puisi – puisi itu sendiri.

Puisi ditulis untuk melakukan ziarah kepada puisi. Hal itu bermula dari adanya ketegangan relasional klasik antara puisi dan kenyataan hidup di sekitar penyair. Bahasa – lewat keindahan dan daya magisnya – kerap membuat jarak yang tak termaafkan antara puisi dan kenyataan. Sehingga penyair sering terisolasi atau terindividuasi oleh pencapaian bahasanya sendiri.

Itulah sebabnya, penyair - penyair besar selalu berupaya menggugah kembali bahasa puisi mereka. Melakukan ziarah atas sikap serta tindak bahasa yang telah mereka yakini sebelumnya, untuk mendapat arti yang lebih segar dari sebuah kerja puisi. Demikianlah misalnya, penyair Subagio Sastrowardoyo pun melakukan hal yang sama ketika ia menulis sajak berjudul “Sajak”.
“…Apakah arti sajak ini //Kalau anak semalam batuk-batuk, //bau vicks dan kayu putih

melekat di kelambu…// Apakah arti sajak ini?”

Relasi pernyataan Frans Nadjira sebagaimana kita kutip di bagian permulaan esai ini musti dilihat dari sisi untuk menggugah kemapanan cara pandang tentang bahasa tersebut. Sama sekali ini memang bukan sebuah siasat bahasa atau strategi penyair untuk membuat puisi yang hanya mengandalkan makna dapat diterima sederajad dengan puisi yang kaya metafor. Dan bukan pula usaha untuk menghancurkan metafora sebagai salah satu fondasi terpenting dalam sebuah bangunan puisi.

Arif Bagus Prasetyo saya kira cukup tepat telah menggunakan istilah ziarah saat membicarakan kumpulan CV ini. Sebab, kata ziarah menyimpulkan adanya suatu penghargaan kepada waktu secara keseluruhan. Baik waktu lampau dan dan waktu kini. Di dalam sebuah ziarah waktu hadir sebagai benang merah yang tidak putus. Demikianlah bila di dalam puisi – puisinya terdahulu Frans Nadjira lebih menonjolkan segi magis bahasa, magis tema dan ‘aku surealisnya’ maka pada CV hal itu telah teredam.

Sesungguhnyalah, CV menghadirkan kepada kita sikap rendah hati seorang penyair dalam menghadapi ego bahasa dan kenyataan yang tidak seimbang. Kalau boleh menggunakan pepatah, badik telah diikat sekarang... yang tertinggal adalah sebuah pengakuan di depan waktu“Unda...terimakasih telah mendidikku berendah hati. Cara berpikirmu yang polos dan sederhana// Memandang hidup sebagai sebuah lakon lengkap. Bahwa tak ada sesuatu yang terjadi//Tanpa kehendakNya// Mengantar aku ke suatu tempat// di mana kutemukan makna hidup// menepis jumawa dan mabuk ketokohan...” ( hal 3)

Inilah inti ziarah itu. Sebuah perjalanan merebut makna – dalam hal ini adalah makna puisi – dari seluruh waktu yang telah dialami penyair. Dan Unda telah menjadi piala dalam keseluruhan perjalanan itu.

Denpasar, 13 Oktober 2007

Esai ini pernah dimuat di Bali Post Minggu, november 2007


Read More..

Luka Sadap

: Silsilah buat penyair Sindhu

oleh Riki dhamparan putra


Darimana puisi?
Dari Amir Hamzah kepada Chairil Anwar
kepada Frans Nadjira kepada Warih, Fajar Arcana,
GM Sukawidana, Sindhu Putra, Sthira, Suantha, Arthawa,
Adnyana Ole dan Yoki sedikit
Mana lainnya? Lainnya adalah liga perempuan
Kecuali Okawati Sidemen dan Oka Rusmini
Rata – rata kurang semangat pada koran nasional
Dan tak begitu suka makan pecel lele Surabaya


Warih menurunkan Jengki
Jengki kemudian menggosok Vivi Lestari dan Pranita Dewi
Sedang yang muda – muda masih calon korban

Di mana Raudal? Dua tahun datang dia hijrah ke Jogja
berbekal surat Pak Umbu
Menikahi Nurwahida Idris di Loloan
Lantas pulang ke Lansano sebentar
Tak lama terdengar kabar, Raudal pulang ke akar

Aku tak tau
Apakah selama pulang itu Raudal
mengingatku kawan sekampungnya?
Selama di perantauan kami sama terasing sama lapar
sama sama tidur di satu bantal
Aku tak tau
Apakah ia masih ingat
di mana aku pernah membuang sajak – sajakku ?
Kami memang lama berteman
Tapi kemudian memutuskan untuk pergi
dari diri masing – masing

Walaupun lambat serupa keong
Aku terus berjalan
Aku berjalan untuk melupakan cermin yang dulu mengambil
ruhku di suatu malam yang tak kuingat tanggal harinya
Cermin yang belum kupecahkan
Tapi aku sudah menerima lukanya

Luka yang membawaku berjalan untuk
bertemu Umbu Landu Paranggi
Luka yang sama diderita oleh kang Acep, mas Alwi
dan para penyair serius
Luka yang terus kuhibur di dalam harapan kepada cinta
kepada sebuah rumah tangga bahagia,
pekerjaan tetap, hadiah Nobel dan rakyat yang makmur

Dari Amir Hamzah juga kiranya
Tapi melalui kehidupan aku telah pulih
sedikit demi sedikit

April 2008

nb: Luka Sadap merupakan ungkapan yang saya ambil dari sebuah sajak Sindhu Putra. Lalu saya mengembangkannya menjadi Ranji ini dan tidaklah sempurna. Karena beberapa penyair seperti IDK Raka Kusuma, Nyoman Wirata, Hartanto, Nuryana Asmaudi, Arif B Prasetyo tampaknya tidak mengambil garis langsung dari Frans Nadjira. Kebanyakan merasa dari Umbu walau sebenarnya Umbu hanya menjalankan peran sebagai redaktur budaya.

Read More..

Sastra Indonesia Terkini di Bali

>> Tuesday, August 04, 2009

Dalam Lanskap Nasional dan Global
oleh Riki dhamparan putra

Banyak pengamat mengatakan bahwa sastra Indonesia kontemporer di Bali terus mengalami kemajuan semenjak tahun 1980-an. Hal itu tak terlepas dari kerja keras para pejuang sastra yang ada di Bali, baik sebagai individu, komunitas maupun sebagai institusi formal seperti lembaga pendidikan dan lembaga bahasa. Perlu juga kita sebut di sini peran surat kabar lokal yang masih menyediakan halaman sastra.

Hingga akhir tahun 1990-an, peran komunitas sebagai motivator perkembangan sastra kontemporer di Bali masih merupakan yang terutama. Bagi sesiapa yang pernah secara langsung mengalami pergesekan kreatif di daerah ini tentu tahu kalau hampir di semua kota kabupaten di propinsi Bali ada terdapat banyak komunitas komunitas sastra yang tidak pernah lelah menghidupkan iklim kreatif di daerahnya. Mereka ini biasanya militan, hidup secara swadaya dan saling berhubungan satu sama lain melalui sebuah pola sosial alamiah yang populer disebut gradag grudug.

Gradag grudug adalah sebuah istilah yang spontan. Setengah artinya berasal dari spirit budaya komunitas lokal tradisional seperti semangat menyama braya, semangat ngumpul ngumpul, keikhlasan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa dan karena itu setiap kerja kebudayaan juga mengandung nilai spritual di dalamnya. Sementara setengah arti gradag grudug yang lain merupakan perwujudan dari kesadaran atas zaman nan terus berkembang yang pada gilirannya mengisi semangat lokal tradisional itu dengan nilai nilai budaya yang lebih progresif, kompetitif dan egaliter. Berdasarkan pengertian ini tahulah kita, sekalipun gradag grudug tersebut sering diucapkan secara spontan dan terimplementasi sebagai tindakan spontan, ia tidaklah datang tiba tiba tanpa rencana seperti hantu. Sebaliknya, ia adalah sebuah strategi kebudayaan. Ada visi dan cita di dalamnya

Itulah sebabnya sastrawan pinisepuh semacam Frans Nadjira, Ketut Suwidja alm, Nyoman Tusthi Edi maupun Umbu Landu Paranggi dan lainnnya selalu menekankan pentingnya untuk terus menjaga semangat gradag grudug ini dalam kesinambungan dinamika sastra kontemporer di Bali. Tak sekedar bicara, mereka juga telah memberi teladan kepada generasi penerus bagaimana menerapkan pola gradag grudug itu dalam pergaulan sastra.

Dan sebagaimana yang telah kita lihat, selama lebih dari 30 tahun melalui gradag grudug ini, kehidupan sastra di Bali tumbuh dengan pesat sebagai bagian dari pembangunan SDM yang berkualitas dan telah mampu tampil di panggung kesusastraan nasional bahkan internasional. Melalui gradag grudug ini pula sastra memberikan harapan kepada kehidupan yang lebih reflektif di tengah menggilanya kehidupan bendawi di Bali.
Namun orang kebanyakan jarang menyadarinya. Hal itu terlihat dari masih lemahnya dukungan lembaga resmi pemerintahan maupun kebijakan kebijakan institusional lainnya dalam meningkatkan kemajuan sastra kontemporer di Bali. Dengan kata lain, para pengambil kebijakan kebudayaan resmi di Bali itu masih kurang pengetahuannya terhadap pentingnya meningkatkan kemajuan sastra sebagai arsenal penting dalam pembangunan SDM di Bali. Mereka masih berpikir sastra itu hanyalah kerumunan remaja yang suka nulis puisi dan cerpen saja, tidak layak jual dan karena itu mungkin mereka tidak menganggap penting.

Jangankan kepada kantong kantong budaya informal semacam komunitas sastra, terhadap institusi resmi semacam fakultas sastra saja, tidak jelas kebijakan pemerintah daerah itu. Beda jauh kalau dibanding perhatian kepada fakultas fakultas ilmu yang lain seperti kedokteran atau tekhnik.

Untunglah sastra tidak pernah terpengaruh oleh ada tidaknya perhatian itu. Sastra tetap jalan tanpa didukung oleh kebijakan kebijakan daerah yang resmi. Di mana mana tetap ada lomba baca puisi, lomba menulis puisi, diskusi puisi dan kegiatan kegiatan serupanya yang dilakukan secara spontan. Sastra sama sekali tidak terpengaruh oleh naiknya turunnya jumlah turis yang mengunjungi Bali. Dengan kata lain, perkembangan pariwisata Bali sama sekali tidak berperan terhadap perkembangan sastra Indonesia kontemporer di Bali. Gak ada artinya.

Ke Era Proposal

Memasuki tahun 2000, keadaan mulai berbeda. Aktifitas sastra kontemporer Bali mulai beradaptasi dengan pola nasional dan pola global sebagai hasil pergaulan para sastrawan tertentu dengan pola Jakarta dan pola global internasional yang berciri industri serta bersifat budaya massa. Acara acara sastra memang masih berlangsung, namun sudah tidak dalam semangat gradag grudug lagi. Melainkan sebagai bagian dari agenda nasional atau agenda yang diklaim sebagai internasional dan memiliki tujuan – tujuan industri di dalamnya. Dalam pola ini, komunitas komunitas lokal lebih banyak muncul dalam kapasitas sebagai pengikut atau penyelenggara, bukan perencana dari kegiatan itu.

Demikianlah misalnya festival sastra internasional Utan Kayu diselenggarakan di Bali dengan bantuan orang Utan Kayu di Bali, melibatkan para sastrawan yang ada di Bali, namun harus disesuaikan dengan minat penyelenggara pusat. Festival penulis internasional diselenggarakan di Ubud, meminta bantuan para sastrawan yang tinggal di Bali namun di bawah pengawasan orang Utan Kayu juga. Dalam proses proses awalnya malah hanya sekedar melibatkan peserta lokal untuk sekedar mendapatkan legitimasi lokal dari event itu. Misal lainnya, sastrawan Horison jalan jalan buat ketemu para penggemar, para sastrawan di Bali ikut di dalamnya. Namun siapa yang ikut tergantung siapa yang di telepon oleh orang dari Horison. Demikianlah sekedar contoh.
Sejalan dengan fenomena tersebut, keahlian baru pun harus dipelajari. Yakni membuat proposal yang adaptif dengan program program kubu nasional penyelenggara itu. Dan biasanya lebih baik berbahasa Inggris. Undangan undangan ditentukan berdasarkan rapat juri dan diseleksi dengan ketat. Tidak cukup lagi sekedar di halo halo di halaman ApreBud Bali Post. Semua jadi serba tekhnokrasi.

Dari gradag – grudug ke era proposal, demikianlah alur singkat perubahan penyelenggaraan kegiatan sastra di Bali kalau dicermati. Mungkin tak ada yang salah dengan fenomena ini Namun itu terjadi di tengah melemahnya daya kreatif komunitas komunitas lokal dalam menyelenggarakan acara sesuai dengan karakter yang sudah tercipta selama ini. Hingga tahun 2009 ini kita tidak mendengar lagi ada sebuah hajatan besar sastra di Bali yang benar benar menjadi agenda komunitas komunitas yang ada di Bali. Semua kegiatan tampaknya tergantung pada ada tidaknya kegiatan dari jaringan nasional atau global.

Blog

Fenomena terbaru adalah blog. Sepinya aktivitas sastra di dunia nyata dan terbatasnya ruang publikasi media massa mendapat solusinya pada dunia cyber. Meskipun tergolong ketinggalan dari kota kota lain seperti Yogyakarta dan Bandung, para sastrawan di Bali akhirnya memasuki juga wilayah cyber ini untuk merayakan era komunikatif di dalam sastra. Setidaknya semenjak dua tahun lewat, sejumlah sastrawan di Jembrana dan Denpasar telah memilih Cyber sebagai ruang publikasi mereka.

Lebih dari sekedar ruang publikasi, blog pun telah menjadi sarana berhubungan antar para sastrawan dan pencinta sastra. Melalui blog mereka bahkan juga membuat perkumpulan di dunia maya, merencanakan kegiatan kegiatan sastra dan terlebih penting menurut hemat saya adalah rasa percaya diri yang tumbuh kembali melalui ruang cyber ini. Sebab hanya di ruang cyber saja setiap orang dapat membagi karyanya kepada pembaca tanpa melalui seleksi redaktur dan tanpa harus menunggu sebuah penerbit menerbitkan karya mereka.

Blog adalah terobosan tekhnologi komunikasi paling penting dalam abad ini di bidang jurnalisme individu. Tak terkecuali di dunia sastra. Ia menghancurkan kuasa media cetak dan dominasi generasi tertentu di panggung sastra. Sebab melalui blog seorang dapat mengunggah apa saja yang mau ia katakan tanpa harus melalui izin redaktur sebuah media cetak. Namun kebebasan semacam itu sekaligus menjadi kelemahan dunia blog. Kecenderungannya adalah kita jadi manusia yang tidak selektif dan bisa jadi tidak tahu mana karya yang bermutu dan mana yang tidak. Sebab pada saat sebuah karya dipublikasi secara massal, tanggapan orang bisa berbeda beda sesuai dengan tingkat kemampuan mereka membaca persoalan yang disuguhkan dalam karya tersebut. Bayangkan jika yang menanggap karya kita adalah orang orang yang sebenarnya tidak memahami persoalan yang dituju karya itu. Tentu kita ikut menyangka karya tersebutlah yang bagus.

Jadi diperlukan suatu disiplin pribadi yang sangat ketat untuk dapat menjadikan kebebasan cyber melalui blog ini sebagai ruang yang positif bagi pendewasaan pemikiran dan kreatifitas. Tanpa itu blog akan menjadi sekedar halaman bermain saja dan kita tidak memperoleh manfaat berarti dengannya. Malah akan semakin memperburuk mental generasi kita.

Denpasar, Januari 2009

Read More..