Powered by Blogger.

Rahim Buat Puisi

>> Thursday, November 06, 2014

Frans Nadjira


: kado untuk Umbu

Cuaca telah berubah
sejak jendela orang-orang miskin
       tak dapat dibuka.
Aku bersandar di dinding hampa
Malam mendirikan benteng kokoh
Antara dunia dan diriku.

Read More..

Sungai Mississippi

>> Thursday, October 16, 2014

Frans Nadjira


1
“Mesin, berikan kartu nasibku hari ini”
kataku sejam lalu
sewaktu menekan tombol sebuah kotak
Tapi yang meluncur ke luar
sebuah kapal es krim. Begitu sempurna.

Read More..

Teh Gingseng

>> Monday, September 22, 2014

Frans Nadjira


                      Sebelum minum
                      kuceritakan
                      khasiat khusus
                      teh ginseng

Kutanggalkan  tulang  igaku
jadi pinggul menggeliat
di depanku

Read More..

Sepasang Mata di Jendela

>> Thursday, September 04, 2014

Frans Nadjira

Di kaca jendela basah
Sepasang mata dingin
Menatap ke dalam kamar
Melihatku terbaring di lantai.
Jika aku tak bangun karena tidur kekal

Read More..

Sepotong Roti

Frans Nadjira

Tak ada yang bermimpi
Tak ada yang menggeser pintu
Sepotong roti tanpa bayang-bayang
Seperti air membeku
batu mengeras
Termenung di atas meja
Detak jam di kamar sunyi.

Read More..

Membaca Nama-nama

Frans Nadjira

Berlatar marmer hitam
nama-nama dicat warna emas
Seperti topeng cahaya
bergerak dalam kegelapan.
Tanpa suara
melangkah ringan di tanah perbatasan
Menatap hampa

Read More..

Pelukis Kata Bernama Frans Nadjira

Oleh: Ivan Kavalera 

Sejak pertama kali membaca karyanya di radio, diam-diam saya menjulukinya pelukis kata. Dia memang seorang pelukis sekaligus penyair dan cerpenis. Frans Nadjira namanya. Dilahirkan di Makassar, Sulawesi Selatan, 3 September 1942. Konon di masa kecil, Frans mengambil kartu pos bergambar Rembrant dan Vincent van Gogh dari kotak surat seorang Belanda, ia juga menemukan reproduksi lukisan Wassily Kandinsky di tong sampah. Karya-karya maestro dunia itu, secara tanpa sadar telah membawa Frans mencintai seni lukis dan mendorongnya bersekolah di Akademi Seni Lukis Indonesia (ASLI) Makassar selama setahun. Kemudian ia merantau ke Kalimantan Utara, Filipina sebagai buruh dan pelaut, serta mendalami seni lukis dan sastra. Pada tahun 1974 ia pindah ke Denpasar, Bali sebagai pelukis dan memilih metoda seni lukis otomatis (psikografi) yang ditekuni hingga sekarang sekaligus melakukan berbagai kegiatan pengembangan sastra di Bali.

Read More..

Selamat Jalan I Gusti Nyoman Lempad

>> Saturday, August 08, 2009

Frans Nadjira


Untuk kali terakhir
kata menjengukmu    
karena kata cuma milikku:
       “Selamat jalan, batu paras
       yang ditatah dengan kapak”

Read More..