Powered by Blogger.

Apa Arti Kemenangan Ini?

>> Tuesday, October 14, 2014

Oleh Nyoman Sukaya Sukawati


Dan pada hari kedelapan belas, perang di Kurukshetra itu pun usai. Kurawa kalah. Duryodana dan saudara-saudaranya tumpas seperti daun-daun kering dimakan api. Medan perang kini hanya menyisakan langit membisu tanpa gema nafiri atau teriakan para ksatria. Segalanya berubah senyap, tenggelam dalam bau kematian yang membentang luas. Memang Pandawa yang memenangi perang itu dan menguasai istana, namun toh itu tak urung membuat Yudistira berguncang: “Selain mendatangkan kehancuran dan kebinasaan, lalu apa arti kemenangan ini akhirnya?”

Read More..

Penyair Bali dan Riuh Debat RTRW*

>> Wednesday, September 17, 2014

Oleh: I Nyoman Darma Putra**


DALAM riuh-rendahnya debat publik mengenai esensi dan substansi Ranperda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) beberapa pekan terakhir, penyair Bali kelihatan berpangku tangan alias tidak mengangkat pena.

Ini berbeda halnya dengan 15 tahun lalu, ketika Bali heboh dengan pro-kontra pembangunan BNR dan lapangan golf di Tanah Lot dan megaproyek lainnya di Bali Selatan. Saat itu, semangat resistensi atas megaproyek mengalir deras lewat banyak puisi penyair Bali, baik yang dimuat di media massa lokal maupun nasional.

Read More..

Sastra Indonesia di Bali Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi*

>> Thursday, September 04, 2014

Oleh: I Nyoman Darma Putra**


Dalam eseinya ‘Puisi dari Bali’ di rubrik ‘Bentara’ Kompas, 1 September 2000, Sutardji Calzoum Bachri, menegaskan bahwa Bali telah memberikan kontribusi penting tidak saja pada dunia puisi tetapi juga prosa dan aktivitas sastra Indonesia lainnya. Pengakuan serupa juga bisa dilihat dalam bentuk yang lain yakni undangan buat penyair Bali untuk menghadiri forum sastra nasional dan internasional serta publikasi bersama.

Read More..